Rabu, 26 Mei 2010

Anak Shalat Berjama'ah

"Dan orang-orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah untuk kami isteri-isteri dan anak keturunan kami yang menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa". (QS. Al-Furqan: 75)

Imam Ibnu Katsir memahami qurratu a'yun dalam ayat ini sebagai anak keturunan yang taat dan patuh mengabdi kepada Allah. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa keluarga yang dikategorikan qurratu a'yun adalah mereka yang menyenangkan pandangan mata di dunia dan di akhirat karena mereka menjalankan ketaatan kepada Allah, dan memang kata Hasan Al-Bashri tidak ada yang lebih menyejukkan mata selain dari keberadaan anak keturunan yang taat kepada Allah swt.

Secara bahasa, anak dalam bahasa Arab lebih tepat disebut dengan istilah At-Thifl Pengarang Al-Mu'jam al-Wasith mengartikan kata At-Thifl sebagai anak kecil hingga usia baligh. Kata ini dapat dipergunakan untuk menyebut hewan atau manusia yang masih kecil dan setiap bagian kecil dari suatu benda, baik itu tunggal.

Kamus besar bahasa Indonesia mengartikan anak sebagai keturunan kedua. Disamping itu anak juga berarti manusia yang masih kecil. Anak juga pada hakekatnya adalah seorang yang berada pada suatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa seiring dengan pertambahan usia. Dalam kontek ini, maka anak memerlukan bantuan, bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa (orang tua dan para pendidik).

Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang menyebut kata Ath-Thifl yang berarti anak yang masih kecil sebelum usia baligh, maka terdapat empat ayat yang menyebut kata ini secara tekstual. Dua ayat berbicara tentang proses kejadian manusia yang berawal dari air mani, yaitu surah Al-Hajj: 5 dan surah Ghafir: 67. Sedangkan kedua ayat lainnya yang menyebut kata At-Thifl terdapat dalam surah An-Nur : 31 dan 59 yang menjelaskan tentang adab seorang anak di dalam rumah terhadap kedua orang tuanya.

Yang paling mendasar dalam pembahasan seputar anak tentu tentang kedudukan anak dalam perspektif Al-Qur'an agar dapat dijadikan acuan oleh orang tua dan para pendidik untuk menghantarkan mereka menuju kebaikan dan memelihara serta meningkatkan potensi mereka. Al-Qur'an menggariskan bahwa anak merupakan karunia sekaligus amanah Allah swt, sumber kebahagiaan keluarga dan penerus garis keturunan orang tuanya. Keberadaan anak dapat menjadi: 1) Penguat iman bagi orang tuanya [QS: 37: 102] seperti yang tergambar dalam kisah Ibrahim ketika merasa kesulitan melakukan titah Allah untuk menyembelih Ismail, justru Ismail membantu agar ayahnya mematuhi perintah Allah swt untuk menyembelihnya, 2) Anak bisa menjadi do'a untuk kedua orang tuanya. [QS: 17: 24], 3) Anak juga dapat menjadi penyejuk hati (Qurratu A'ayun), [QS: 26: 74], 4) menjadi pendorong untuk perbuatan yang baik [QS: 19: 44]. Akan tetapi, pada masa yang sama, anak juga dapat menjadi 5) fitnah, [QS: 8; 28] 6), bahkan anak dapat menjelma menjadi musuh bagi orang tuanya. [QS: 65: 14]

Maka dari itu, para ulama sepakat akan pentingnya masa kanak-kanak dalam periode kehidupan manusia. Beberapa tahun pertama pada masa kanak-kanak merupakan kesempatan yang paling tepat untuk membentuk kepribadian dan mengarahkan berbagai kecenderungan ke arah yang positif. Karena pada periode tersebut kepribadian anak mulai terbentuk dan kecenderungan-kecenderunganya semakin tampak. Menurut Syekh Fuhaim Musthafa dalam karyanya Manhaj al-Thifl al-Muslim: Dalilul Mu'allimin wal Aba' Ilat-Tarbiyati Abna masa kanak-kanak ini juga merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk membentuk pengendalian agama, sehingga sang anak dapat mengetahui, mana yang diharamkan oleh agama dan mana yang diperbolehkan.

Dalam hal ini, keluarga merupakan tempat pertama dan alami untuk memelihara dan menjaga hak-hak anak. Anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang secara  fisik, akal dan jiwanya, perlu mendapatkan bimbingan yang memadai. Di bawah bimbingan dan motifasi keluarga yang continue akan melahirkan anak-anak yang dikategorikan 'qurratu a'yun'.

Untuk mewujudkan semua itu, maka sejak awal Islam telah menyoroti berbagai hal di antaranya penegasan bahwa awal pendidikan seorang anak dimulai sejak sebelum kelahirannya, yaitu sejak kedua orang tuanya memilih pasangan hidupnya. Karena pada dasarnya anak akan tumbuh dan berkembang banyak tergantung dan terwarnai oleh karakter yang dimiliki dan ditularkan oleh kedua orang tuanya. Di antara tujuan disyariatkan pernikahan adalah terselamatkannya keturunan dan terciptanya sebuah keluarga yang hidup secara harmonis yang dapat menumbuhkan nilai-nailai luhur dan bermartabat.

Dalam konteks ini, Al-Ghazali yang kemudian dikuatkan prinsip-prinsipnya oleh Ibn Qayyim al-Jauzyyah menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangatlah penting, oleh kerena itu pelaksanaannya harus dilakukan dengan baik, dengan pembiasaan dan contoh-contoh teladan, memberikan permainan yang wajar dan mendidik, jangan sampai memberikan permainan yang mematikan hati, merusak kecerdasan, menghindarkannya dari pergaulan yang buruk. Pengaruh yang positif diharapkan akan menjadi kerangkan dasar bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Membangun kerangka dasar pada anak usia dini dapat diibaratkan membangun sebuah bangunan bertingkat. Bangunan seperti itu tentu saja akan dimulai dengan membuat kerangka pondasi yang sangat kokoh yang mampu menopang bagian bangunan yang ada di atasnya. Demikian pula anak-anak yang memiliki pondasi yang kuat dan kokoh ketika usia dini maka akan menjadi dasar dan penopang bagi perkembangan anak memasuki pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan hidupnya di tengah masyarakat.

Menurut pandangan Syekh Mansur Ali Rajab dalam karyanya Ta'ammulat fi falsafah al-Akhlaq terdapat paling tidak lima aspek yang dapat diturunkan dari seseorang kepada anaknya, yaitu: 1). Jasmaniyah, seperti warna kulit, bentuk tubuh, sifat rambut dan sebagainya. 2). Intelektualnya, seperti, kecerdasan dan atau kebodohan. 3) tingkah laku, seperti tingkah laku terpuji, tercela, lemah lembuat, keras kepala, taat, durhaka. 4) alamiyah, yaitu pewarisan internal yang dibawa sejak kelahiran tanpa pengaruh dari faktor eksternal. 5) sosiologis, yaitu pewarisan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Ibn Qayyim Al-Jauzyyah dalam salah satu karyanya yang monumental tentang pendidikan anak 'Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud' menegaskan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, suci dan selamat dari penyimpangan dan menolak hal-hal buruk yang membahayakan dirinya. Namun lingkungan yang rusak dan pergaulan yang tidak baik akan menodai kefitrahan anak dan dapat mengakibatkan berbagai penyimpangan dan pada gilirannya akan menghambat perkembangan akal fikirannya. Sehingga tujuan akhir dari dari pendidikan anak prasekolah adalah memberikan landasan iman dan mental yang kokoh dan kuat pada anak, sehingga akan hidup bahagia bukan saja di saat ia dewasa dalam kehidupannya di dunia, tetapi juga bahagia di akherat, bahkan diharapkan dapat mengikut sertakan kebahagiaan itu untuk kedua orang tua, guru dan mereka yang mendidiknya.

Sehingga pendidikan anak usia dini pada hakekatnya juga merupakan intervensi dini dengan memberikan rangsangan edukasi sehingga dapat menumbuhkan potensi-potensi tersembunyi (hidden potency) serta mengembangkan potensi tampak (actual potency) yang terdapat pada diri anak. Upaya mengenal dan memahami barbagai ragam potensi anak usia dini merupakan persyaratan mutlak untuk dapat memberikan rangsangan edukasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan perkembangan potensi tertentu dalam diri anak. Upaya ini dapat dilalukan dengan memahami berbagai dimensi perkembangan anak seperti bahasa, intelektual, emosi, social, motorik konsep diri, minat dan bakat.

Tujuan lain dari pemberian program simulasi edukasi adalah melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi yang dimiliki anak. Gangguan ini dapat muncul dari dua faktor, yakni faktor internal yang terdapat dalam diri anak dan dan faktor ekternal yang berwujud lingkungan di sekitar anak, baik yang berwujud lingkungan fisik seperti tempat tinggal, makanan dan alat-alat permainan ataupun lingkungan sosial seperti jumlah anak, peran ayah/ ibu, peran nenek/ kakek, peran pembantu, serta nilai dan norma sosial yang berlaku.

Ayat di atas yang menjadi doa sehari-hari setiap orang tua yang mendambakan hadirnya keturunan yang qurratu a'yun, hendaknya dijadikan acuan dalam pembinaan anak, sehingga tidak lengah sesaatpun dalam upaya melakukan pengawasan, pendidikan dan pembinaan anak-anak mereka. Itulah diantara ciri Ibadurrahman yang disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya yang memilki kepedulian besar terhadap nasib anak-anak mereka di masa yang akan datang. Semoga akan senantiasa lahir dari rahim bangsa ini generasi yang qurratu a'yun, bukan hanya untuk kedua orang tuanya, tetapi juga masyarakatnya dan bangsanya. Amin.

Selasa, 25 Mei 2010

Menjaga hidup sehat termasuk ajaran Rasulullah SAW

Dr Briliantono M Soenarwo
"Pertanyaan pertama yang diajukan kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak mengenai kenikmatan dunia adalah, 'Bukankah Aku telah memberimu badan yang sehat'?" (HR Tirmidzi).

Sehat adalah pilihan, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang menginginkan sakit. Sebisa mungkin, penyakit harus dihindari. Wajar saja bila pemerintah mencanangkan program imunisasi dini bagi balita. Tujuannya untuk mencegah kemungkinan seorang balita terkena suatu penyakit. Dan, sebagian dari kita berusaha menjaga kesehatan tubuh dan menghindari penyakit dengan berbagai cara; olahraga, menjaga pola makan dan istirahat, diet khusus, me-manage stres, mengonsumsi suplemen, atau memperbaiki pola hidup.

Orang-orang yang dengan sadar menjaga pola dan gaya hidup, aktivitas dan makanannya, agar tetap bisa tampil bugar dan prima, adalah mereka yang mengerti akan arti penting kesehatan. Bahkan, tidak jarang mereka rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak demi menjaga kesehatan. Sebab mereka yakin, bila sakit, ongkos yang harus dikeluarkan akan lebih mahal dibandingkan dengan menjaga kesehatan.
 
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tubuhmu mempunyai hak atas dirimu." Itu artinya, tubuh kita juga harus mendapatkan perhatian. Kasihan, kalau menit demi menit dia dimanfaatkan, dieksploitasi, tapi tidak mendapatkan perhatian yang semestinya.

Ibarat mesin, tubuh juga memerlukan perawatan rutin dan kontinyu agar tidak cepat rusak. Termasuk dalam perawatan tubuh adalah tidak memberinya asupan makanan yang buruk dan berbahaya, semisal narkoba dan minuman beralkohol.

Kita baru merasakan betapa bahagianya hidup sehat ketika sedang sakit, atau ada sebagian anggota tubuh kita yang sakit. Berbagai rencana tiba-tiba muncul di benak kita apabila nanti kembali sehat. Kita akan rutin berolahraga, mengurangi makan makanan yang berlemak, berhenti merokok, mengurangi begadang, dan lain sebagainya. Tapi, ketika kita sudah sehat, semua rencana itu segera terabaikan.

Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah teladan sempurna dalam berbagai hal, termasuk dalam menjaga kesehatan. Itu terbukti dari jarangnya beliau sakit, sepanjang 63 tahun usia beliau. Beliau penah sakit karena dizalimi oleh kaum kafir, dilempari batu hingga pelipis beliau berdarah, atau terkena senjata musuh kala berperang dan diracun seorang wanita Yahudi. Kalaupun sakit, maka beliau akan segera berobat dengan dibekam (hijamah). Selebihnya, Rasulullah SAW hidup dalam keadaan sehat karena selalu menerapkan pola dan gaya hidup sehat, baik melalui aktivitas fisik yang seimbang, menjaga pola makan dan istirahat, serta terinteraksi sosial yang bermanfaat. Sebagai Muslim, sudah selayaknya kita meneladani Rasulullah dalam segala hal, termasuk menjaga kesehatan.

Minggu, 21 Maret 2010

Peristiwa Nabi Nuh dan hikmahnya

QS Al Qomar 9 - 15:
"Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: "Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman). Maka dia mengadu kepada Tuhannya: "bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)." Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?".

Dalam sejarah umat manusia diatas, Nabi Nuh dianggap orang gila karena beliau menyampaikan sebuah hal yang sangat khayal bagi umat ketika itu. Hal tentang balasan setelah mati, hal tentang penyembahan kepada Alloh yang tidak bisa dilihat sehingga khayal bagi mereka. Sedemikan dahsyat umat tersebut mengejek, mengintimidasi kepercayaan nabi Nuh, menggerogoti keyakinan nabi Nuh akan kebenaran 'khayalannya' sehingga setelah berbuat maksimal untuk mempertahankannya sampailah pada titik ketidakberdayaannya sebagai manusia. Nabi Nuh berdoa dan dititik itulah Alloh mencampuri urusan keterbatasan manusia dengan mengirim kekuatan yang menghembas segala akal pikiran manusia, tidak ada lagi hal hal yang dianggap khayalan tidak akan terjadi. Alloh menurunkan air dari langit dan memancarkan air dari dalam perut bumi untuk membuat sebuah lautan yang bergolak hebat, tenaga pikiran manusai tidak artinya disaat saat seperti itu. Anugerah atas nabi Nuh adalah sebuah perintah membuat perahu, itulah metode Alloh untuk menjadikan khayalan menjadi kenyataan, itulah bukti campur tangan Alloh didalam menghilangkan batas batas tenaga manusia, karena nabi Nuh begitu keras keyakinannya atas kebenaran yang diamanatkan oleh Alloh.

Dimasa sekarang, hanya sedikit orang yang bisa mempercayai khayalan bisa menjadi kenyataan. Seseorang yang mempunyai ide ide cemerlang sering diejek karena ide ide itu terlihat mustahil untuk dilakukan. Di kantor hal ini terjadi, di rumah tangga hal ini terjadi juga, di sekolah atau universitas, di pemerintahan semua hal hal itu terjadi. Dunia kita ini begitu kejamnya dalam menghakimi ide ide seseorang yang dianggap tidak masuk akal -saat ini. Meskipun ide ide itu adalah benar, adalah untuk bisa lebih banyak menolong perusahaan, anggota keluarga, masyarakat dan negara, pasti cemoohan yang diterima adalah lebih banyak daripada pujiannya.

Nabi Nuh adalah contoh orang yang terkena kejamnya pendapat dunia tersebut, demikian juga nabi Muhammad dan nabi nabi yang lain. Kita contoh kegigihan mereka dalam menegakkan kebenarannya. Meskipun mereka dianggap gila, mereka diejek, mereka diintimidasi, bahkan dikucilkan mereka tetap bekerja berdasarkan keyakinan akan kebenaran mereka, bekerja secara maksimal sampai batas puncak tenaga manusia, dan disaat puncak itu tercapai, sesungguhnya saat itulah awal bantuan Alloh bekerja, awal campur tangan Alloh dalam merubah sifat sifat seluruh makhluk ciptaannya, berubah untuk mendukung kebenaran para nabi itu, api menjadi dingin dalam sejarah nabi Ibrahim, air bah melanda seluruh permukaan bumi dalam sejarah nabi Nuh, laut terbelah dalam sejarah nabi Musa, masuknya Umar bin Khatab dalam sejarah nabi Muhammad dan lain lain.

Untuk itu, masihkan kita takut mengkhayalkan sesuatu dimasa depan? Jangan takut, pastikan khayalan itu kita komunikasikan dengan Alloh dari awal, kita landasi dengan rukun iman, kita isi dengan rukun Islam, insyaALLOH khayalan akan menjadi kenyataan.

Minggu, 14 Maret 2010

Beramallah Semaksimal Yang Kamu Mampu...

Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah SWT. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majelis ta'lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah saw bersabda,

 

"...Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit."

(H.R. Bukhari)

 

Oleh karena itu, jangan anggap enteng amal yang telah kita kerjakan dengan tulus dengan hati yang murni, tanpa kehendak-kehendak selain dari kasih sayang dan ridha Allah semata. Sekecil apapun amal yang telah  dipersembahkan kepada Allah dan manusia, semuanya adalah kebaikan yang diangkat kepada Allah dan menjadi kemuliaan diri kita disisi Allah SWT.

 

Kadang-kadang amal kebaikan yang kecil itu juga, yang kita anggap enteng, akan memberi kehormatan besar dan memberi keselamatan bagi kebaikan manusia. Kadang-kadang pula amal yang kita banggakan dan sangat banyak, apalagi menjadi sebutan orang-orang, bisa jadi tidak memberi manfaat, dan kadang-kadang pula menjadi fitnah.

 

Ada satu kisah menarik yang perlu kita perhatikan, karena didalamnya ada pelajaran yang berharga yang harus kita renungkan. Kisah ini adalah kisahnya Ummu Mahjan. 

Ummu Mahjan adalah seorang wanita yang tak pernah mengeluh. Beliau seorang wanita yang berkulit hitam, dipanggil dengan nama Ummu Mahjan telah disebutkan didalam Ash-Shahih tanpa menyebutkan nama aslinya,

beliau berdomisili di Madinah.(lihat Ibnu Sa'ad dalam Ath-Thabaqat 8/414)

 

Beliau adalah seorang wanita miskin yang memiliki tubuh yang lemah. Beliau menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap akidahnya dan masyarakat islam, lantas apa yang bisa dia lakukan padahal beliau adalah seorang wanita yang tua dan lemah? Akan tetapi beliau sedikitpun tidak bimbang dan ragu, dan tidak menyisakan sedikitpun rasa putus asa dalam hatinya. Dan rasa putus asa adalah jalan yang tidak dikenal dihati orang-orang yang beriman.

 

Beliau bahkan tak mau tertinggal dalam membela Islam. Memang, ia tak bisa berbuat seperti layaknya para shohabiyah yang lain. Ia tidak punya harta untuk diinfakkan. Ia pun tak memiliki tenaga untuk pergi kemedan jihad. Tapi ia tak pernah mau ketinggalan dalam beramal. Ia ingin dirinya dikenang oleh Rasulullah. Maka dengan segenap semangat dan sisa tenaga yang ia miliki. Ia melakukan pekerjaan itu. Suatu pekerjaan yang tidak dilirik oleh orang lain, yaitu membersihkan mesjid Rasulullah. Tiap hari beliau  membersihkannya, sampai akhir hayatnya

 

Dan kegigihan Ummu Mahjan pun memperoleh hasil. Malam itu seusai shalat Isya, Ummu Mahjan ra. dipanggil menghadap Sang Maha Pencipta dengan penuh keridhaan dan diridhai. Rasulullah merasa bersedih dan kehilangan dengan kematiannya. Wanita miskin itu begitu lekat dalam ingatan beliau. Setiap hari wanita beruban itu bekerja keras membersihkan mesjid. Sehingga rumah Allah itu benar-benar menjadi temapat yang nyaman untuk beribadah dan bermusyawarah.

 

Wanita tua berkulit hitam itu memang bukan seorang pahlawan, tetapi sejarah telah mengukir namanya dengan tinta emas, meski nama aslinyantidak pernah dikenal orang. Ummu Mahjan adalah contoh dari orang yang mampu berbuat seadanya tetapi memperoleh kemuliaan dari ketekunan dari apa yang ia lakukan. Ia isi kehidupannya -hari demi hari dengan penuh keberkahan- sampai akhir hayatnya dengan sebuah pekerjaan yang sederhana. Rasulullah SAW bersabda,

 

"Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit." (H.R. Bukhari)

 

Jadi, apa yang harus kita tunggu.. ayo, beramallah... "beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan"

Nabi SAW bersabda, "Jangan meremehkan kebaikan yang sedikit, walaupun hanya dengan senyuman di wajah ketika engkau bertemu dengan saudaramu." (HR. Muslim)

Dan di riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda, "Bagi setiap jiwa, pada setiap hari ketika matahari terbit, ada keharusan untuk bersedekah bagi jiwa itu." Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, darimana aku bersedekah sedang aku tidak punya harta?" Rasulullah menjelaskan, "Sesungguhnya termasuk dari dalam pintu-pintu sedekah adalah mengucapkan takbir, tasbih, membaca alhamdulillah, mengucapkan laa ilaaha illallaah, beristighfar kepada Allah, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, menjauhkan duri dan bebatuan dari jalan orang-orang, menuntun orang buta, mengajari serta memahami orang yang tuli serta bisu hingga mengerti, menunjukkan pencari suatu kebutuhan yang engkau tahu dimana tempat apa yang dibutuhkannya itu, atau engkau segera bergegas dengan segenap kakimu untuk menolong mereka yang meminta pertolongan, atau dengan kekuatan lenganmu engkau mengentaskan orang-orang lemah, itu semua adalah termasuk dari pintu-pintu sedekah darimu untuk dirimu." (HR. Ahmad, Nasa'i dan Ibnu Hiban) Wallahu A'lam